6/07/2013

Golan Kian Membara, Anggota PBB Ramai-ramai Tarik Pasukan



Perang Suriah yang masih awet sejak Maret 2011, telah membuat Austria ketar-ketir. Satu pertempuran yang sangat dekat dengan satu markas pasukan perdamaian PBB, membuat Austria mengumumkan pihaknya akan menarik pasukannya dari negeri itu. Alasan resminya, situasi keamanan Suriah makin buruk. Seorang juru bicara pasukan perdamaian PBB mengatakan, dua personel pasukan perdamaian PBB dari India dan Filipina mengalami "cedera ringan" akibat pertempuran itu.

Dataran Tinggi Golan memanas (ROL)
Pertempuran antara pasukan pemerintah Suriah yang didukung Rusia dan Iran,dengan oposisi/pemberontak yang didukung negara-negara Barat yang terjadi Kamis (6/6) ini, menyebabkan satu-satunya perlintasan Dataran Tinggi Golan di garis gencatan senjata dengan Israel, yakni Quneitra, bisa direbut kembali pasukan pemerintah Suriah. Ini menjadi kemunduran bagi pasukan oposisi/pemberontak, sehari setelah mereka dihalau dari kota strategis Qusayr. Tentara mengejar pemberontak yang melarikan diri dari Qusayr dengan menembakkan rudal-rudal ke Bweida Timur, sekitar 14 km jauhnya (http://www.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/13/06/07/mo0hma-suriah-rebut-kembali-perlintasan-golan).

Tempat perlintasan Quneitra, adalah satu-satunya rute langsung antara Israel dan Suriah, yang digunakan oleh penduduk Druze dari Golan yang ingin melintas untuk keperluan kehidupan sehari-hari seperti belajar, bekerja, atau menikah. Israel merebut sebagian besar daerah dataran tinggi itu dari Suriah dalam Perang Enam Hari tahun 1967 dan menganeksasinya tahun 1981, satu tindakan yang tidak pernah diakui internasional (http://www.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/13/06/07/mo0hma-suriah-rebut-kembali-perlintasan-golan).

Israel yang ketar-ketir pun lalu bagai memiliki alasan untuk memperkuat kehadiran militernya di dataran tinggi itu, seperti dikutip radio publik Israel. Pengerahan pasukan ke kawasan ini menambah buruk situasi keamanan di kawasan tersebut. Di Wina, Ibukota Austria, pemerintah Austria menyebutkan alasan penarikan mundur pasukannya karena ancaman terhadap tentara Austria telah mencapai tingkat yang “tidak dapat diterima”.

Menteri Pertahanan Austria, Gerald Klug, mengatakan, penarikan pasukan itu akan dilakukan antara dua sampai empat pekan dan akan dimulai Selasa. Austria termasuk salah satu dari penyumbang personil terbesar, yakni 380 tentara. Austria yang netral adalah bagian dari Pasukan Pemantau Gencatan Senjata PBB (UNDOF) di Golan sejak lembaga ini dibentuk tahun 1974. (http://www.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/13/06/07/mo0hma-suriah-rebut-kembali-perlintasan-golan).

Pembentukan pasukan UNDOF dilakukan atas kesepakatan gencatan senjata Israel dan Suriah yang memperebutkan Dataran Tinggi Golan pada Perang Yom Kippur 1973. Tujuan UNDOF adalah memastikan gencatan senjata yang sudah berjalan puluhan tahun itu tetap dipatuhi. Mereka pun terus meninjau ulang kesepakatan dua pihak itu lewat badan-badan PBB (http://international.okezone.com/read/2012/12/11/413/730476/krisis-suriah-makin-parah-jepang-tarik-pasukan).

Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-Moon, Kamis (6/6), menyampaikan penyesalannya atas keputusan Austria tersebut. Ban menyoroti sumbangan Austria "yang berharga dan lama" bagi UNDOF, dan menyampaikan penghargaannya kepada semua negara yang terus menyediakan tentara serta pengamat militer dalam misi itu (http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/13/06/07/mo03g4-sekjen-pbb-sesalkan-austria-tarik-prajurit-perdamaian).

Para pemimpin PBB segera menyelenggarakan perundingan mendadak menyangkut penggantian pasukan Austria itu. Ban melalui juru bicaranya, menyatakan kekhawatirannya menghadapi kemungkinan yang akan terjadi akibat penarikan pasukan seperti itu, terhadap operasi pemeliharaan perdamaian dan juga keamanan regional kawasan tersebut. Sebelumnya, jumlah pasukan perdamaian PBB di Dataran Tingggi Golan juga berkurang menjadi sekitar 900 personil, setelah pada Maret lalu Kroasia menarik pasukannya, menyusul Kanada dan Jepang (http://www.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/13/06/07/mo0hma-suriah-rebut-kembali-perlintasan-golan).

Selain keempat negara tersebut, Filipina juga sedang mempertimbangkan untuk menarik pasukan perdamaiannya di bawah UNDOF tersebut. Terlebih sejak empat tentaranya juga diculik oposisi Suriah. PBB pun menarik penjaga perdamaiannya dari markas pengamatan di wilayah gencatan senjata Dataran Tinggi Golan, tempat penculikan tersebut. Keputusan ini diambil karena keprihatinan atas keamanan di wilayah perbatasan Israel-Suriah ini.

Atas penculikan itu, Filipina menyeru Dewan Keamanan (DK) PBB mengerahkan semua pengaruhnya untuk membebaskan tentaranya. Keempat tentara itu diculik pemberontak Suriah pada Selasa, hanya dua bulan sesudah 21 tentara Filipina diciduk kelompok sama selama empat hari. Keempatnya berada di pos pengamatan di daerah Al Jamlah di Dataran Tinggi Golan. Kelompok oposisi yang menamakan diri Brigade Martir Yarmuk, menyatakan menculik penjaga perdamaian itu demi keselamatan mereka.

UNDOF, yang memantau gencatan senjata antara Israel dengan Suriah sejak 1974, memiliki sekitar 1.000 tentara penjaga perdamaian dan petugas sipil dari Austria, Filipina, India, Maroko, dan Moldova (http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/13/05/10/mmk3op-pbb-tarik-penjaga-perdamaiannya-di-golan). Pernyataan pemerintah Filipina untuk mempertimbangkan penarikan mundur pasukannya itu diungkapkan Jumat (7/6), menyusul satu prajuritnya yang terluka akibat pertempuran di perbatasan Quneitra.

Pukulan untuk PBB
Kementerian Luar Negeri Filipina sebenarnya sudah merekomendasikan penarikan mundur ini kepada Presiden Benigno Aquino, pada bulan lalu. Namun juru bicara kepresidenan, Abigail Valte, mengatakan, rekomendasi tersebut masih dipelajari. Sementara itu juru bicara Kemenlu Filipina menegaskan pihaknya bersikukuh bahwa 341 prajurit Filipina harus ditarik pulang.

Panglima Angkatan Bersenjata Filipina, Jenderal Emmanuel Batista, mengatakan, keputusan penarikan mundur pasukan adalah wewenang pemerintah. Satu hal yang pasti, kata Bautista, prajurit Filipina sudah disiapkan untuk menghadapi berbagai risiko. Jika Filipina ikut menarik mundur pasukannya, ini akan menjadi pukulan besar untuk UNDOF, menyusul Kroasia, Kanada, Jepang, dan Austria (http://internasional.kompas.com/read/2013/06/07/15501474/Filipina.Kembali.Pertimbangkan.Tarik.Pasukannya.di.Golan).

Akhir Desember lalu, Jepang menarik pasukannya dari Dataran Tinggi Golan karena eskalasi konflik di kawasan itu dianggap kian mencemaskan. Padahal keputusan Jepang ini bersamaan dengan rencana PBB yang akan meningkatkan kehadiran pasukan UNDOF di sana. Seperti diberitakan Yomiuri Shimbun, Selasa (11/12/12), Pemerintah Jepang memilih melindungi keselamatan pasukannya. Oleh karena itulah, ke-47 pasukan beladiri Jepang akan dipulangkan (http://international.okezone.com/read/2012/12/11/413/730476/krisis-suriah-makin-parah-jepang-tarik-pasukan).

Sedangkan pada Maret lalu, pemerintah Kroasia menarik 100 personel pasukannya menyusul adanya laporan media bahwa Arab Saudi telah membeli senjata dari Zagreb (ibukota Kroasia) untuk dipasok ke pihak pemberontak. Perdana Menteri Kroasia, Zoran Milanovic, dalam pertemuan kabinet di ibukota, Zagreb, mengatakan setelah adanya pemberitaan itu, kehidupan tentara Kroasia di Dataran Tinggi Golan tidak dapat dijamin.

Pada 26 Februari 2013, The New York Times melaporkan, Arab Saudi baru-baru ini membeli kargo besar infanteri dan senjata berat dari Kroasia dan melalui Jordan, kemudian menyalurkannya ke pihak oposisi. Zagreb telah membantah laporan itu. "Kita bisa menyangkal lagi dan lagi, tapi semua orang sudah membaca laporannya, dan tentara kami tidak lagi aman," kata Milanovic, seperti dikutip The New York Times. Para pejabat yang akrab dengan transfer men-transfer senjata, mengatakan kepada surat kabar Amerika bahwa, "Senjata-senjata adalah bagian dari surplus yang dideklarasikan di Kroasia yang tersisa dari perang Balkan tahun 1990-an." (http://www.wartanews.com/timur-tengah/833710c6-a841-2c12-5df8-fcc3427d9318/kroasia-tarik-pasukan-dari-golan-setelah-kirim-senjata-ke-pemberontak-suriah).**


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar