6/23/2013

“Calo-calo Minyak”-lah yang Bikin Beban APBN Berat



“Faisal: Kemarin kan Hatta Rajasa sudah ke Iran, kenapa tidak (beli) dari sana? Kenapa harus melalui calo-calo? Kenapa mesti kita beli melalui Petral? Kenapa melalui Muhammad Reza? Ini ada mafia yang membuat harga menjadi lebih mahal”

Mei lalu, saat perayaan Waisak 2552 di Gelora Bung Karno, Jakarta,  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), bagai telah memiliki template, meminta masyarakat memahami keputusan pemerintah menaikkan harga BBM (bahan bakar minyak). "Pemerintah telah menempuh berbagai cara akibat beban kenaikan minyak mentah dunia, harga pangan dunia, dan adanya krisis energy. Akhirnya, pemerintah harus menempuh opsi mengurangi subsidi BBM," ujarnya. Benarkah SBY dan jajarannya sudah menempuh berbagai cara? Karena menurut pengamat ekonomi, Faisal Basri, pemerintah ternyata membeli minyak dengan harga mahal dari perusahaan milik Mohammad Reza, Petral Indonesia.

rakyat lagi yang susaaah (fariedwijdan.wordpress.com/ROL)
Tak heran jika Faisal merasa  khawati pemerintah dan DPR memiliki agenda tersembunyi dalam mengutak-atik harga BBM. Tujuannnya kata Faisal, agar mereka mendapatkan banyak keuntungan. Untuk apa? “Bisnis minyak itu keuntungannya banyak, jangan-jangan untuk bancakan banyak partai, lumayan uangnya bisa untuk dana pemenangan pemilu,” ujar Faisal. Kecurigaan Faisal itu juga bertolak dari kebijakan pemerintah yang membeli minyak dari Mohammad Reza, “pemilik” Petral Indonesia, yang menjual BBM dengan harga mahal.

Faisal mengingatkan, dulu Dahlan Iskan (menteri BUMN) pernah berjanji akan membubarkan Petral Indonesia, namun sekarang dia bungkam saat ditanya soal Petral. Faisal menyarankan, seharusnya, segera dibuat tim investigasi yang netral dan profesional untuk mengungkap kebobrokan dalam pengelolaan minyak. “Jika calo minyak dibasmi, maka subsidi BBM bisa dikurangi tanpa membuat rakyat menderita. Namun, untuk melakukan ini diperlukan kesungguhan dari pemerintah untuk menghentikan ulah Petral sejak zaman Soeharto," ungkap Faisal (http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/13/06/22/mosdcu-kenaikan-harga-bbm-dicurigai-untuk-bancakan-parpol).

Bicara beban APBN, menurut Faisal, calo-calo minyaklah yang telah memberatkan anggaran negara itu. Salah satu calo minyak berdasi tersebut kata Faisal adalah Petral tersebut. Petral, atau Pertamina Trading Energy Ltd, adalah perseroan terbatas anak perusahan Pertamina yang bergerak di bidang perdagangan minyak. Perusahaan inilah yang menurut Faisal Basri telah menambah beban APBN.

"Kenapa BBM kita tidak beli (impor) secara langsung? Kenapa kita tidak membeli (langsung) ke negara penghasil minyak seperti Iran? Kemarin kan Hatta Rajasa sudah ke Iran, kenapa tidak (beli) dari sana? Kenapa harus melalui calo-calo? Kenapa mesti kita beli melalui Petral? Kenapa melalui Muhammad Reza? Ini ada mafia yang membuat harga menjadi lebih mahal. Dahlan Iskan sebelumnya pernah ingin membubarkan Petral, namun sekarang malah diam saja, ada apa ini?" berondong Faisal. Diungkapkan Faisal, pria bernama Muhammad Reza adalah calo tata niaga minyak. Calo-calo semacam inilah kata dia, yang harus dibasmi untuk efisiensi.

Menurut Faisal, mafia BBM ini tidak pernah disentuh pemerintah. Bahkan semua partai politik jika sudah berbicara mengenai peran Petral pada pengadaan BBM, kata dia, tidak ada yang berani bersuara, sementara di hadapan publik partai tersebut seakan-akan menolak kenaikan harga BBM. "Bisnis ini banyak bancakannya. Bisnis senilai US$ 15 miliar lumayan buat dana Pemilu. Anggota DPR yang kritis sekalipun kalau bicara Petral atau Muhammad Reza langsung mental," kata Faisal.

Perlu diketahui, saat ini saham Petral 99,83% dimiliki oleh PT Pertamina dan 0,17% dimiliki Direktur Utama Petral, Nawazir. Tugas utama Petral adalah menjamin supply kebutuhan minyak yang dibutuhkan Indonesia dengan cara membeli minyak dari luar negeri. Saat ini Petral memiliki 55 perusahaan yang terdaftar sebagai mitra usaha terseleksi. Pengadaan minyak oleh Petral dilakukan secara tender terbuka.

Namun Petral juga melakukan pengadaan minyak dengan pembelian langsung. Alasannya, ada jenis minyak tertentu yang tidak dijual bebas atau pembelian minyak secara langsung dapat lebih murah dibandingkan dengan mekanisme tender terbuka (http://news.liputan6.com/read/619695/faisal-basri-bbm-mahal-karena-negara-beli-minyak-lewat-calo).

Wacana Pembubaran Petral
Pada Februari 2012, Dahlan Iskan selaku Menteri BUMN, mengisyaratkan akan membubarkan PT Petral. Anak usaha PT Pertamina ini bermarkas di Singapura. "Alasan pembubaran Petral agar Pertamina dapat menjalan korporasi secara baik, citranya tidak buruk dan bisa fokus mengelola sektor hulu," kata Dahlan di kantornya, 21 Februari 2012. Dahlan menjelaskan, selama ini sejumlah kalangan menilai bahwa Petral merupakan perusahaan ajang korupsi para pejabat dan petinggi-petinggi lama Pertamina.

"Isu bahwa Petral itu dijadikan sebagai ajang korupsi semakin merebak. Perusahaan ini juga dijadikan 'mainan', menjadi ajang mendapatkan komisi dari ekspor impor minyak bagi orang-orang tertentu. Karena berdomisili di Singapura, menjadi sulit dikontrol," ujarnya. Waktu itu, Dahlan mengungkapkan bahwa Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan, pun menyetujui pembubaran Petral, dengan syarat aktivitas ekspor impor tidak dibebankan pada Pertamina.  Dahlan berharap, pembubaran Petral akan membuat upaya Pertamina membangun good corporate Governance (CGC), tidak terganggu.

Petral merupakan anak perusahaan yang didirikan pada 1976 berdasarkan Companies Ordinance Hong Kong, yang 99,83 persen sahamnya dimiliki oleh Pertamina. Petral memfokuskan kegiatan usaha untuk mendukung Pertamina memenuhi kewajiban memasok dan memenuhi permintaan (ekspor impor) minyak dan gas di Indonesia, yakni dengan menjadi pihak pembeli minyak dari luar negeri.

Selama 2011 Petral merealisasikan volume perdagangan minyak mentah dan produk sebanyak 266,42 juta barel terdiri atas minyak mentah sebesar 65,74 juta barel atau rata-rata sekitar 180.000 barel per hari (bph), dan perdagangan produk sebsear 200,68 juta barel atau rata-rata sekitar 550.000 (bph). Pada 2011, Petral membukukan laba bersih tak teraudit (unaudited) sebesar 47,5 juta dolar AS, atau naik 53 persen dibandingkan dengan laba bersih tgeraudit (audited) 2010 (http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/02/21/lzr4q8-jadi-ajang-korupsi-anak-pertamina-di-singapura-bakal-dibubarkan).

Presiden Direktur Petral, Nawasir, mengaku semenjak adanya wacana pembubaran Petral karena dianggap sarang mafia impor minyak, ada beberapa bank yang selama ini bekerjasama dalam penjaminan impor (L/C) meminta penjelasan kepada pihak Petral. "Perbankan yang memberikan L/C US$ 3,5 miliar itu menanyakan bagaimana statement itu, mereka mempertanyakan. Hal ini memberikan signal yang kurang baik," ungkapnya. Namun sebagai perusahaan milik Pertamina, Nawasir mnegkau pasrah jikapun mau dibubarkan (http://finance.detik.com/read/2012/02/23/152403/1850037/1034/bos-petral-pasrah-mau-dibubarkan-dahlan-iskan).

Dahlan: Petral Bukan Pihak Ketiga
Akan tetapi tak lebih dari sebulan, Dahlan mengumumkan pembatalan pembubaran Petral. "Kemarin saya sempat menyatakan setuju Petral dibubarkan asal ditemukan cara yang tepat dan lebih baik," kata Dahlan, di kantornya 2 Maret 2012. Menurut Dahlan, pada prinsipnya rencana untuk melakukan perbaikan di tubuh Petral tetap ada karena tidak ingin perusahaan itu dijadikan tempat korupsi seperti yang disebut-sebut sejumlah kalangan.

Namun pada perkembangannya terdapat penolakan dari sejumlah kalangan terkait rencana pembubaran perusahaan yang bertugas melakukan ekspor impor minyak mentah untuk Pertamina itu. Karen Agustiawan pun akhirnya menegaskan bahwa Petral tetap dipertahankan sebagai sole trading arm, alias satu-satunya anak perusahaan yang melaksanakan kegiatan trading Pertamina.
Menanggapi hal itu, Dahlan mengatakan, "Ya, itu haknya dia (Karen) ngomong gitu, tapi kita ingin Petral itu lebih baik lagi," tegas Dahlan. Masalahnya lagi tambah Dahlan, hingga kini dia belum menemukan cara untuk membenahi Petral. Mantan Dirut PT PLN ini sempat melontarkan ide agar Petral digabung saja dengan perusahaan BUMN yang bergerak pada usaha perdagangan, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI).(http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/12/03/02/m08z28-ditentang-dahlan-urung-bubarkan-petral).

Dahlan bahkan kemudian menegaskan pada Mei 2012 bahwa Petral itu 100 persen milik pertamina, jadi jangan dianggap sebagai pihak ketiga. Karena itu kata Dahlan, Petral (sebagai milik Pertamina) akan menjadi pihak yang membeli BBM, tanpa perlu lewat tender. Jadi, kata Dahlan, Petral lah yang justru membeli BBM/minyak mentah dari pihak ketiga. "Petral itu sama kayak pertamina. Apa sih bedanya Petral sama Pertamina," kata Dahlan, di kantornya 23 Mei 2012. Anak perusahaan ini juga diperbolehkan melakukan jual beli minyak, misalnya dibeli dari Kuwait kemudian dijual ke Thailand, dibeli dari Bahrain lalu dijual ke Filipina (diinterpretasi dari: http://www.tempo.co/read/news/2012/05/23/090405732). Pembelian lewat pihak ketiga kata Dahlan, akab dibenarkan jika dlam keadaan darurat.**

1 komentar:

  1. Anonim7/04/2020


    ===Agens128 bagi uang Tunai===

    Pakai Pulsa Tanpa Potongan
    Juga Pakai(OVO, Dana, LinkAja, GoPay)
    Support Semua Bank Lokal & Daerah Indonesia
    Game Populer:
    =>>Sabung Ayam S1288, SV388
    =>>Sportsbook,
    =>>Casino Online,
    =>>Togel Online,
    =>>Bola Tangkas
    =>>Slots Games, Tembak Ikan
    Permainan Judi online yang menggunakan uang asli dan mendapatkan uang Tunai
    || Online Membantu 24 Jam
    || 100% Bebas dari BOT
    || Kemudahan Melakukan Transaksi di Bank Besar Suluruh INDONESIA

    WhastApp : 0852-2255-5128
    Agens128Agens128

    BalasHapus