6/07/2013

Golan Kian Membara, Anggota PBB Ramai-ramai Tarik Pasukan



Perang Suriah yang masih awet sejak Maret 2011, telah membuat Austria ketar-ketir. Satu pertempuran yang sangat dekat dengan satu markas pasukan perdamaian PBB, membuat Austria mengumumkan pihaknya akan menarik pasukannya dari negeri itu. Alasan resminya, situasi keamanan Suriah makin buruk. Seorang juru bicara pasukan perdamaian PBB mengatakan, dua personel pasukan perdamaian PBB dari India dan Filipina mengalami "cedera ringan" akibat pertempuran itu.

Dataran Tinggi Golan memanas (ROL)
Pertempuran antara pasukan pemerintah Suriah yang didukung Rusia dan Iran,dengan oposisi/pemberontak yang didukung negara-negara Barat yang terjadi Kamis (6/6) ini, menyebabkan satu-satunya perlintasan Dataran Tinggi Golan di garis gencatan senjata dengan Israel, yakni Quneitra, bisa direbut kembali pasukan pemerintah Suriah. Ini menjadi kemunduran bagi pasukan oposisi/pemberontak, sehari setelah mereka dihalau dari kota strategis Qusayr. Tentara mengejar pemberontak yang melarikan diri dari Qusayr dengan menembakkan rudal-rudal ke Bweida Timur, sekitar 14 km jauhnya (http://www.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/13/06/07/mo0hma-suriah-rebut-kembali-perlintasan-golan).

Tempat perlintasan Quneitra, adalah satu-satunya rute langsung antara Israel dan Suriah, yang digunakan oleh penduduk Druze dari Golan yang ingin melintas untuk keperluan kehidupan sehari-hari seperti belajar, bekerja, atau menikah. Israel merebut sebagian besar daerah dataran tinggi itu dari Suriah dalam Perang Enam Hari tahun 1967 dan menganeksasinya tahun 1981, satu tindakan yang tidak pernah diakui internasional (http://www.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/13/06/07/mo0hma-suriah-rebut-kembali-perlintasan-golan).

Israel yang ketar-ketir pun lalu bagai memiliki alasan untuk memperkuat kehadiran militernya di dataran tinggi itu, seperti dikutip radio publik Israel. Pengerahan pasukan ke kawasan ini menambah buruk situasi keamanan di kawasan tersebut. Di Wina, Ibukota Austria, pemerintah Austria menyebutkan alasan penarikan mundur pasukannya karena ancaman terhadap tentara Austria telah mencapai tingkat yang “tidak dapat diterima”.

Menteri Pertahanan Austria, Gerald Klug, mengatakan, penarikan pasukan itu akan dilakukan antara dua sampai empat pekan dan akan dimulai Selasa. Austria termasuk salah satu dari penyumbang personil terbesar, yakni 380 tentara. Austria yang netral adalah bagian dari Pasukan Pemantau Gencatan Senjata PBB (UNDOF) di Golan sejak lembaga ini dibentuk tahun 1974. (http://www.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/13/06/07/mo0hma-suriah-rebut-kembali-perlintasan-golan).

Pembentukan pasukan UNDOF dilakukan atas kesepakatan gencatan senjata Israel dan Suriah yang memperebutkan Dataran Tinggi Golan pada Perang Yom Kippur 1973. Tujuan UNDOF adalah memastikan gencatan senjata yang sudah berjalan puluhan tahun itu tetap dipatuhi. Mereka pun terus meninjau ulang kesepakatan dua pihak itu lewat badan-badan PBB (http://international.okezone.com/read/2012/12/11/413/730476/krisis-suriah-makin-parah-jepang-tarik-pasukan).

Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-Moon, Kamis (6/6), menyampaikan penyesalannya atas keputusan Austria tersebut. Ban menyoroti sumbangan Austria "yang berharga dan lama" bagi UNDOF, dan menyampaikan penghargaannya kepada semua negara yang terus menyediakan tentara serta pengamat militer dalam misi itu (http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/13/06/07/mo03g4-sekjen-pbb-sesalkan-austria-tarik-prajurit-perdamaian).

Para pemimpin PBB segera menyelenggarakan perundingan mendadak menyangkut penggantian pasukan Austria itu. Ban melalui juru bicaranya, menyatakan kekhawatirannya menghadapi kemungkinan yang akan terjadi akibat penarikan pasukan seperti itu, terhadap operasi pemeliharaan perdamaian dan juga keamanan regional kawasan tersebut. Sebelumnya, jumlah pasukan perdamaian PBB di Dataran Tingggi Golan juga berkurang menjadi sekitar 900 personil, setelah pada Maret lalu Kroasia menarik pasukannya, menyusul Kanada dan Jepang (http://www.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/13/06/07/mo0hma-suriah-rebut-kembali-perlintasan-golan).

Selain keempat negara tersebut, Filipina juga sedang mempertimbangkan untuk menarik pasukan perdamaiannya di bawah UNDOF tersebut. Terlebih sejak empat tentaranya juga diculik oposisi Suriah. PBB pun menarik penjaga perdamaiannya dari markas pengamatan di wilayah gencatan senjata Dataran Tinggi Golan, tempat penculikan tersebut. Keputusan ini diambil karena keprihatinan atas keamanan di wilayah perbatasan Israel-Suriah ini.

Atas penculikan itu, Filipina menyeru Dewan Keamanan (DK) PBB mengerahkan semua pengaruhnya untuk membebaskan tentaranya. Keempat tentara itu diculik pemberontak Suriah pada Selasa, hanya dua bulan sesudah 21 tentara Filipina diciduk kelompok sama selama empat hari. Keempatnya berada di pos pengamatan di daerah Al Jamlah di Dataran Tinggi Golan. Kelompok oposisi yang menamakan diri Brigade Martir Yarmuk, menyatakan menculik penjaga perdamaian itu demi keselamatan mereka.

UNDOF, yang memantau gencatan senjata antara Israel dengan Suriah sejak 1974, memiliki sekitar 1.000 tentara penjaga perdamaian dan petugas sipil dari Austria, Filipina, India, Maroko, dan Moldova (http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/13/05/10/mmk3op-pbb-tarik-penjaga-perdamaiannya-di-golan). Pernyataan pemerintah Filipina untuk mempertimbangkan penarikan mundur pasukannya itu diungkapkan Jumat (7/6), menyusul satu prajuritnya yang terluka akibat pertempuran di perbatasan Quneitra.

Pukulan untuk PBB
Kementerian Luar Negeri Filipina sebenarnya sudah merekomendasikan penarikan mundur ini kepada Presiden Benigno Aquino, pada bulan lalu. Namun juru bicara kepresidenan, Abigail Valte, mengatakan, rekomendasi tersebut masih dipelajari. Sementara itu juru bicara Kemenlu Filipina menegaskan pihaknya bersikukuh bahwa 341 prajurit Filipina harus ditarik pulang.

Panglima Angkatan Bersenjata Filipina, Jenderal Emmanuel Batista, mengatakan, keputusan penarikan mundur pasukan adalah wewenang pemerintah. Satu hal yang pasti, kata Bautista, prajurit Filipina sudah disiapkan untuk menghadapi berbagai risiko. Jika Filipina ikut menarik mundur pasukannya, ini akan menjadi pukulan besar untuk UNDOF, menyusul Kroasia, Kanada, Jepang, dan Austria (http://internasional.kompas.com/read/2013/06/07/15501474/Filipina.Kembali.Pertimbangkan.Tarik.Pasukannya.di.Golan).

Akhir Desember lalu, Jepang menarik pasukannya dari Dataran Tinggi Golan karena eskalasi konflik di kawasan itu dianggap kian mencemaskan. Padahal keputusan Jepang ini bersamaan dengan rencana PBB yang akan meningkatkan kehadiran pasukan UNDOF di sana. Seperti diberitakan Yomiuri Shimbun, Selasa (11/12/12), Pemerintah Jepang memilih melindungi keselamatan pasukannya. Oleh karena itulah, ke-47 pasukan beladiri Jepang akan dipulangkan (http://international.okezone.com/read/2012/12/11/413/730476/krisis-suriah-makin-parah-jepang-tarik-pasukan).

Sedangkan pada Maret lalu, pemerintah Kroasia menarik 100 personel pasukannya menyusul adanya laporan media bahwa Arab Saudi telah membeli senjata dari Zagreb (ibukota Kroasia) untuk dipasok ke pihak pemberontak. Perdana Menteri Kroasia, Zoran Milanovic, dalam pertemuan kabinet di ibukota, Zagreb, mengatakan setelah adanya pemberitaan itu, kehidupan tentara Kroasia di Dataran Tinggi Golan tidak dapat dijamin.

Pada 26 Februari 2013, The New York Times melaporkan, Arab Saudi baru-baru ini membeli kargo besar infanteri dan senjata berat dari Kroasia dan melalui Jordan, kemudian menyalurkannya ke pihak oposisi. Zagreb telah membantah laporan itu. "Kita bisa menyangkal lagi dan lagi, tapi semua orang sudah membaca laporannya, dan tentara kami tidak lagi aman," kata Milanovic, seperti dikutip The New York Times. Para pejabat yang akrab dengan transfer men-transfer senjata, mengatakan kepada surat kabar Amerika bahwa, "Senjata-senjata adalah bagian dari surplus yang dideklarasikan di Kroasia yang tersisa dari perang Balkan tahun 1990-an." (http://www.wartanews.com/timur-tengah/833710c6-a841-2c12-5df8-fcc3427d9318/kroasia-tarik-pasukan-dari-golan-setelah-kirim-senjata-ke-pemberontak-suriah).**


Keturunan Indian Arktik Telah Sejak Lama Menganut Islam



"Walikota Inuvik, Denny Rodgers: bagi seluruh warga kota Inuvik, ini adalah bangunan baru di kota ini, dan setiap orang disambut di sini"

Meskipun merupakan lokasi yang ekstrim untuk menetap, namun dalam satu dekade belakangan ini ternyata banyak Muslim yang tinggal di poros utara planet Bumi ini: Kutub Utara alias Arktik. Mereka misalnya tersebar di Nunavut, Yukon, dan Nortwest Territories. Ketiganya masuk dalam wilayah negara Kanada. Kebanyakan mereka merupakan imigran asal Timur Tengah (Timteng) dan Asia. Namun siapa sangka, penduduk asli kutub ternyata sudah mengenal Islam sejak lama.

Masjid pertama di Arktik tengah dibangun (ROL)
Maatalii Okalik Syed (21), tengah mempelajari bagaimana Islam bisa masuk dan dianut oleh suku asli benua Amerika bagian utara ini. Maatalii sendiri adalah seorang wanita suku Inuit yang tinggal di wilayah Pangnirtung, Nunavut, Arktik. Dari penelitian yang dilakukannya, diketahui Muslim Kutub Utara sudah ada sejak dulu, mereka adalah keturunan sukunya sendiri, Inuit, dan suku Cree.

Sayangnya di Arktik belum ada organisasi resmi Islam seperti yang ada di beberapa wilayah lain di Amerika Utara. Penduduk asli Arktik Muslim ini masih tersebar dan tidak terorganisasi. Di tiga wilayah di Arktik tersebut, warga Muslim dari suku Inuit dan Cree ini jumlahnya tidak lebih dari 1.000 jiwa (http://www.republika.co.id/berita/video/umat/13/06/05/mnx6mh-kisah-populasi-islam-di-kutub-utara).

Diungkapkan Maatalii, yang juga merupakan peneliti dari Carleton University, Ottawa, Kanada, suku Inuit atau yang dikenal dengan Eskimo ini, ternyata telah memeluk Islam sebelum para imigran muslim datang ke wilayah ini. Menurut Maatalii, suku Inuit termasuk akar rumpun Indian utara (Cree), Inuit dan Aborigin (Australia).   

Meski begitu Maatalii tampaknya masih belum menemukan bagaimana persisnya Islam bisa masuk dan dianut oleh beberapa suku asli pribumi Amerika Utara ini. Tetapi beberapa catatan mengatakan umat Islam pribumi eksis dan semakin berkembang seperti yang terdapat pada Masjid di Ottawa-Gatineau (http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/02/03/lythy1-muslim-terus-berkembang-di-kutub-utara).

Di Inuvik sendiri, diperkirakan terdapat 75-80 Muslim yang tinggal di antara 3.700 penduduknya. Mayoritas penduduk Muslim di sana berasal dari Sudan, beberapa lainnya berasal dari Mesir, Yordania, Libanon, dan Palestina. Sepertiga dari warga Muslim itu bekerja sebagai supir taksi. Sementara yang lainnya ada yang memiliki restoran, toko kelontong, bekerja sebagai tukang cukur, dan petugas keamanan.

Di luar penelitian yang diungkapkan Maatalii, Al Arabiya pernah memberitakan mengenai penduduk Muslim pertama yang menetap di Kutub Utara. Dia adalah Talal al-Khateeb, pria keturunan Suriah, yang tiba di kota Inuvik pada 28 tahun yang lalu. Dia dikenal sebagai orang terkaya di komunitas kecilnya.

Setelah hampir tiga dekade umat Islam mencapai kota itu, penerus Khateeb terus berdatangan. Lantaran jumlahnya yang kini hampir mencapai 100 jiwa, mereka pun membutuhkan sebuah tempat ibadah berupa masjid atau mushala. Inilah awal perencanaan membangun masjid pertama di ujung utara dunia ini. Selama ini Muslim Inuvik memanfaatkan sebuah trailer dengan kontainer seluas 14 kaki persegi sebagai masjid, hingga kemudian “benda” tersebut tak bisa lagi menampung jumlah jamaan yang terus bertambah (http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/10/09/20/135473-talal-al-khateeb-muslim-pertama-tinggal-di-kutub-utara).

Masjid Pertama di Arktik
September 2011 lalu, sebuah masjid pertama di atas Lingkaran Arktik, akhirnya selesai dibangun. Luas masjid yang diberi nama The Midnight Sun (matahari tengah malam) ini 473 meter persegi. Sebelum didirikan di kutub, masjid ini dirakit di kawasan Manitoba, untuk kemudian diangkut dengan melintasi daratan dan sungai sejauh 4.000 kilometer (2.485 mil).

little mosque on thetundra
Setibanya di Inuvik yang berjarak 200 kilometer dari Kutub Utara, masjid ini kemudian disusun dan didirikan. Pada 10 November 2011 lalu Muslim Inuvik melakukan salat pertama di masjid ini. "Ini adalah saat yang ditunggu bagi Muslim yang berada di Inuvik. Hari ini diisi dengan banyak emosi," kenang seorang Muslim Kanada, Nulifer Rahman.

Berhasil didirikannya masjid di wilayah bernama Thompson, Inuvik, ini, merupakan upaya gigih sebuah badan amal Muslim Manitoba, Kutub Utara, yakni The Zubaidah Tallab Foundation. Inilah masjid pertama yang ada setelah lebih dari seabad kehadiran Islam di wilayah paling utara Kanada ini. Sejumlah wartawan, termasuk para wartawan televisi Arab, bergabung dengan kaum Muslim setempat untuk menghadiri grand opening masjid tersebut.

''Masjid baru yang dijuluki little mosque on the tundra oleh media Kanada itu, menawarkan ruang utama dengan karpet merah, dapur dan perpustakaan,'' kata anggota komite masjid, Amer Suliman, Kamis (11/11/11). Selain difungsikan sebagai tempat ibadah, masjid ini juga bisa dimanfaatkan sebagai gedung pertemuan warga dengan daya tampung hingga 3.500 orang. Ahmed Al Khalaf kepada Canadian Broadcasting Corporation mengatakan, pendirian masjid ini adalah prestasi yang sangat pribadi bagi Muslim Inuvik. “Karena kami semula menempati bangunan kecil yang sudah tua dan sekarang memiliki bangunan baru ini," kata Ahmed.

Dalam perjalanannya ke kota kecil di Lingkaran Artika itu, masjid kecil ini hampir terbalik namun diselamatkan oleh petugas pembangunan jalan. "Bagi seluruh warga kota Inuvik ini adalah bangunan baru di kota ini, dan setiap orang disambut di sini," kata Wali kota Inuvik, Denny Rodgers. Rodgers mengatakan, tidak ada rasa permusuhan dengan adanya bangunan baru ini. "Kami adalah kota yang sangat multikultural. Kanada sendiri merupakan masyarakat majemuk. Dan Inuvik, kalau Anda lihat, juga seperti itu," tegasnya (http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/10/11/12/146332-masjid-inuvik-masjid-di-belahan-dunia-paling-utara).

Kisah pembangunan Masjid di Inuvik ini, menarik perhatian sineas Kanada, Saira dan Nulifer Rahman. Keduanya bakal membuat film dokumenter tentang kisah pembangunan masjid tersebut. Tak hanya soal masjid, film dokumenter tersebut juga akan menceritakan syiar Islam di belahan dunia utara ini. Menurut Saira, film ini akan menjadikan Inuvik terlihat dalam peta. Masyarakat di dunia pun, akan mencari tahu tentang kota ini. "Yang lebih penting lagi, ada harapan dari kami agar penonton dapat terinspirasi dengan semangat sebuah komunitas kecil," kata dia (http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/04/26/m3382h-subhanallah-masjid-di-kutub-utara-bakal-difilmkan).**

6/06/2013

BBM Biodiesel Ala “Minyak Comberan” Shanghai




“Di Indonesia sebenarnya sudah diterapkan oleh bus Trans Pakuan, Bogor. Pemkot Bogor ketika itu membeli minyak jelantah dari restoran-rentoran besar dan menukarnya dengan minyak goreng baru”

Dunia kuliner Shanghai, Cina, sedang diramaikan skandal penggunaan minyak goreng bekas dari restoran. Istilah untuk minyak goreng bekas yang digunakan lagi ini, seperti disebutkan media resmi setempat, adalah "minyak comberan". Di Indonesia, minyak goreng bekas ini lebih dikenal dengan nama minyak jelantah. Seorang produsen BBM jelantah di Bogor bahkan sudah menjadi pemasok untuk perusahaan peleburan timah dan tekstil di seluruh Indonesia.

ROL
Permasalahan penggunaan kembali minyak jelantah untuk memasak ini telah memancing upaya positif pemerintah Shanghai, yakni menseriusi konversi minyak comberan ini menjadi BBM biodiesel untuk kendaraan. Pemerintah daerah Shanghai melalui Komite Keamanan Pangan Kota Shanghai, pun menggaet salah satu universitas paling terkemuka di Cina, Universitas Tongji, serta enam perusahaan,  untuk menyukseskan produksi BBM minyak comberan ini. Nantinya, BBM cap minyak comberan ini akan digunakan untuk bus, taksi, dan truk. Harian Cina Daily menyebut,  Universitas Tongji, setidaknya tiga tahun terakhir  ini telah melakukan percobaan guna menghasilkan campuran yang pas untuk biodiesel tersebut.

Ide minyak comberan sebagai bahan baku BBM ini mulai mengemuka ketika pada 2011 pihak berwenang Cina menangkap 32 orang terkait minyak goreng bekas restoran yang dipakai lagi memasak ini. Padahal minyak jelantah diduga sudah mengandung senyawa karsinogen dan berbagai polutan lainnya, yang dapat memicu berbagai penyakit berat seperti stroke hingga kanker.

Maret lalu, pihak berwenang Shanghai juga melakukan penggerebekan terkait penanganan minyak limbah dan kualifikasi perusahaan yang menangani limbah itu. Saat kasus "minyak comberan" marak tahun 2010, para ahli memperkirakan konsumsi minyak goreng bekas di Cina setiap tahun mencapai dua atau tiga juta ton (http://www.republika.co.id/berita/otomotif/mobil/13/05/27/mngugb-shanghai-niat-sulap-minyak-comberan-jadi-bbm).

Dikutip dari Car News China, Jumat (31/5/13), BBM dari hasil pengolahan minyak jelantah ini akan mulai diterapkan dua tahun ke depan. Berhubung biaya konversi jelantah ke BBM relatif tinggi dibandingkan menggunakan gas,  pemerintah Cina berencana memberi subsidi bagi kendaraan yang akan menggunakan biodiesel tersebut.

Setelah meneliti selama tiga tahun terakhir, Professor Universitas Tongji, Lou Diming, menemukan bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk mewujudkan BBM minyak comberan. "Di satu sisi, kami menekankan perlunya ‘membersihkan’ para penimbun limbah minyak goreng. Di sisi lain, kita mencari cara yang ideal untuk menggunakan minyak goreng bekas, salah satunya adalah menggunakannya untuk bahan bakar kendaraan," ungkap Lou. Saat ini, Lanjut Lou, timnya telah bereksperimen dengan menggunakan bahan bakar solar campuran pada lebih dari 300 taksi, bus dan truk.

Bukan Hal Baru di Indonesia
Wacana memroduksi biodiesel dari minyak jelantah sebenarnya telah mengemuka di Indonesia sejak 2007, bahkan sudah diterapkan oleh bus Trans Pakuan, Bogor. Pemkot Bogor ketika itu membeli minyak jelantah dari restoran-rentoran besar dan menukarnya dengan minyak goreng baru dengan perbandingan 1:8 (http://otomotif.news.viva.co.id/news/read/417277-china-olah-minyak-goreng-bekas-jadi-bahan-bakar) Tapi entah kenapa upaya positif seperti ini tidak pernah benar-benar menggempita di negeri ini.

Pada 2009, Sjazli Arsyad Abdis, anggota Komisi III DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel), yang juga membidangi pertambangan dan energi, menyebutkan, BBM dari jelantah jauh lebih murah dari BBM jenis premium dan solar, yakni hanya Rp 3.000 per liter. Ini jauh lebih murah ketimbang harga premium dan solar sekarang Rp 4.500 per liter, apalagi jika harga BBM dinaikkan tak lama lagi.

Sjazli bahkan mengaku sudah menggunakan biodiesel ini untuk kendaraannya. Oleh karenanya dia tidak ambil pusing ketika pada 2009 pemerintah sudah berkoar-koar akan melarang mobil pribadi menggunakan premium dan solar bersubsidi. "Untuk keperluan bahan bakar mobil saya kini menggunakan jalantah, karena harganya jauh lebih murah dari harga premium dan solar saat ini," ujarnya ketika itu di Banjarmasin.

Ia menerangkan, untuk menggunakan jelantah sebagai BBM mobil,  tidak perlu mengubah konstruksi mesin mobil, tapi cukup menambah satu alat untuk pemanas. "Sifat jelantah itu kan dingin dan agak kental daripada premium maupun solar, sehingga memerlukan alat pemanas agar jalantah tersebut panas dan sedikit mencair," tuturnya.

Namun dia mengakui pengembangan jelantah sebagai BBM mobil ini akan terkendala oleh jumlah jelantah yang bisa dikumpulan, apalagi jika dibanding perkembangan jumlah kendaraan bermotor. Maksimalisai pemanfaatan jelantah sebagai BBM kendaraan bermotor, bagaimana pun bisa menjadi upaya meminimalisasi penggunaan kembali minyak gorieg bekas yang berbahaya untuk kesehatan (http://www.republika.co.id/berita/trendtek/sains/09/01/30/28693-jelantah-alternatif-bbm-murah).

Puluhan Juta Rupiah dari Jelantah
Di Indonesia, seorang produsen biodiesel asal Jonggol, Kabupaten Bogor, bahkan meraup hingga puluhan juta rupiah per bulan dari bisnis konversi jelantah menjadi BBM biodiesel ini. Menangkap adanya peluang bisnis ini, Toniaga Djie, sang produsen biodiesel, sengaja menampung minyak jelantah dari pengepul dan kemudian mengolahnya menjadi biodiesel.

Seperti dikutip dari situs Kontan, Toniaga membeli minyak jelantah dari para pengepul dengan harga Rp 4.250 per liter. Sebelum diolah, jelantah itu disaring dahulu, untuk kemudian diberi zat tertentu untuk menghilangkan warna dan bau. Setelah jernih, dilakukan proses esterifikasi yang mengubah jelantah menjadi biodiesel. "Rendemen minyak jelantah 70%. Artinya, seliter jelantah menghasilkan 0,7 liter biodiesel," kata Toniaga.

Selain mudah, biaya produksinya juga murah, yakni Rp 2.000 per liter. Dalam sehari, Toniaga mampu menghasilkan 6-9 ribu liter minyak biodiesel. Ia menjualnya Rp 9.000 per liter dengan keuntungan Rp 2.750 per liter. Alhasil, dalam sebulan Toniaga mampu mendulang omzet antara Rp 54-81 juta. "Produksinya banyak karena permintaannya juga besar," kata Toniaga. Konsumen biodiesel Toniaga ini antara lain perusahaan peleburan alumunium dan timah, serta produsen tekstil di Kalimantan, Medan, Lampung, Cirebon, Semarang, dan Surabaya. Mutu biodiesel jelantah kata Toniaga, sejauh diolah dengan prosedur yang benar, akan bagus.

Sementara itu, Puji Sudarmaji, warga Sidoarjo, memilih menjadi pengepul jelantah untuk dipasok ke produsen minyak biodiesel. Paling banter dalam sebulan ia hanya mengumpulkan 200-500 kilogram jelantah dari perorangan. Tidak semua jelantah sama kualitasnya. Untuk ini Puji memberikan peringkat mutu jelantah lewat warna dan baunya. "Yang grade-nya rendah itu sekitar Rp 3.500 per kg, sedangkan grade yang tinggi Rp 7.500 per kg," kata Puji. Alhasil, saban bulan Puji mampu mendulang omzet mulai Rp 17,5 juta hingga Rp 45 juta (http://peluangusaha.kontan.co.id/news/meraup-laba-dengan-menyulap-minyak-jelantah-menjadi-biodiesel-).**