6/03/2013

Joe Taslim “Kalahkan” Will Smith



"Sementara itu, bintang film The Raid lainnya, Iko Uwais, akan bergabung sebagai pemain di film drama aksi Man of Tai Chi, arahan Keanu Reeves"
 
Film sekuel "Fast & Furious 6" yang dibintangi aktor Indonesia, Joe Taslim, menduduki tangga teratas box office Amerika Serikat (AS) dan Kanada. Film yang juga dibintangi aktor laga Hollywood, Vin Diesel dan Dwayne Johnson ini, sekaligus menyisihkan film fiksi ilmiah "After Earth" yang dibintangi Will Smith dan anaknya.

Joe dalam "Fast Six" (ROL)
Seperti diberitakan Reuters, "Fast & Furious" meraup 34,5 juta dolar AS (Rp 334 miliar) dari Jumat sampai Ahad (2/6). Di nomor dua bertengger komedi berjudul "Now You See Me" yang sukses mengeduk 28,1 juta dolar AS (Rp 272 miliar). Film yang dibintangi Jesse Eisenberg ini berkisah tentang para pesulap jalanan yang berada di panggung bear ketika mereka merampok bank dan menyalurkan uang hasil rampokannya ke penonton.

"After Earth" yang dibintangi Smith dan anaknya Jaden Smith, menghasilkan 27 juta dolar AS (Rp 261 miliar) untuk menempati posisi ketiga.  Film ini bercerita tengah 1.000 tahun setelah kiamat memaksa manusia keluar dari Bumi di mana seorang anak dan ayahnya terperangkap akibat pendaratan tak mulus. Mereka berdua lalu mencari pertolongan (http://www.republika.co.id/berita/senggang/film/13/06/03/mnryeq-fast-and-furious-6-masih-rajai-box-office-as).

“Fast & Furious 6” (Fast Six) menceritakan satu kelompok kriminal profesional yang pimpinan Dominic Torreto (Diesel) yang pensiun pasca-perampokan mereka di Fast Five (2011), tetapi masih buron. Agen US Diplomatic Security Service (DSS), Luke Hobbs (Johnson), berjanji menghapus catatan kriminal mereka dan mengizinkan mereka pulang jika mau membantunya memburu sebuah organisasi pembunuh bayaran profesional yang dipimpin Owen Shaw (Evans) dan wakilnya, Letty Ortiz (Rodriguez). (http://id.wikipedia.org/wiki/Fast_%26_Furious_6).

Sementara Joe Taslim dalam film itu tampil memerankan tokoh antagonis bernama Jah. Dalam trailer film tersebut, Jah menampilkan aksi tendangan udara yang menghantam tubuh Roman Pearce (Tyrese Gibson). (http://www.republika.co.id/berita/senggang/film/13/02/06/mhshzs-ini-aksi-joe-taslim-di-fast-and-furious-6). Jah digambarkan sebagai pembunuh berdarah dingin yang dalam aksinya menggunakan seni bela diri dan keterampilan parkour untuk melawan jagoan di film ini yang diperankan Paul Walker dan Vin Diesel.

Pada satu kesempatan bertemu di Jakarta, Joe mengaku  merasa bersyukur bisa bergabung ke dalam salah satu produksi film besar Hollywood ini. Joe bisa merasakan pola kerja dalam skala yang begitu besar. "Karena industri mereka (Hollywood) sudah lama dan market yang mereka tuju adalah penonton dunia, jadi otomatis secara budget, teknologi, mereka jauh lebih bagus," tutur Joe.

Namun untuk kualitas dan spirit kerja para aktor, diakui Joe tidak jauh berbeda dengan aktor Indonesia. Ia merujuk apa yang dirasakan dalam film "The Raid" dan beberapa filmnya. Menurut Joe, perannya di film Hollywood-nya yang pertama ini cukup untuk membuat penonton "ngeh" bahwa ada orang Indonesia di film ini (http://www.republika.co.id/berita/senggang/film/12/12/14/mf0dfx-joe-taslim-aktor-indonesia-tak-kalah-dengan-hollywood).


Bergabungnya Joe Taslim dalam Fast Six tidak lepas dari peran Gareth Evans,  sutradara film "The Raid". Evans membantu Joe membuat video casting untuk dikirim ke Justin Lin, sutradara film "Fast Six". "Mereka nonton The Raid dan mereka lihat saya cocok untuk karakter yang mereka cari. Kemudian mereka coba saya untuk casting. Mereka kirim dialog dan kemudian saya rekam dan kirim balik ke mereka," tutur pria kelahiran Palembang, 23 Juni 1981 ini. Proses casting ini berlangsung cukup lama. Joe diminta beberapa kali untuk mengirimkan video casting.

"Tapi satu bulan kemudian mereka kasih jawaban. Mereka bilang sutradara suka, studio, produser juga suka. Dan waktu itu saya masih nggak nyangka," ujar Joe seraya mengatakan tawaran film "Fast Six" datang saat "The Raid" masih diputar di Indonesia. Mendapat peran di film besar tentu jadi kebanggaan bagi Joe. "The Raid" kata Joe, telah mengubah dirinya. “Saya banyak belajar dalam proyek itu," ujar pemeran Jaka di film The Raid ini (http://www.republika.co.id/berita/senggang/film/12/12/14/mf0cbb-casting-fast-six-joe-taslim-dibantu-gareth-evans).

Awalnya, Joe sempat merasa minder pada nama-nama besar seperti Vin Diesel, Dwayne "The Rock" Johnson, Michelle Rodriguez, Luke Evans, Paul Walker, dll. Namun kata Joe, mendunianya The Raid membuat pendekatannya dengan seluruh kru film "Fast Six" jadi lebih mudah. "Mereka cuma nanya, ‘dari indonesia ya? kita udah liat film The Raid, keren filmnya, dan kita seneng elo ada di film ini’. Diapresiasi seperti itu jujur gue seneng banget, dan yang ngomong itu Vin Diesel," ujar Joe.  Meski begitu, sebagai "anak baru", Joe tetap menghormati mereka yang lebih lama berkecimpung di dunia film. “Saya bilang saya orang baru dan minta input dari mereka," jelas Joe yang juga atlet Judo Indonesia ini (http://www.republika.co.id/berita/senggang/film/12/12/14/mf0azm-syuting-bareng-vin-diesel-ini-kata-joe-taslim).

Di dalam situs IMDB, Joe disebutkan sebagai model Indonesia, aktor, dan mantan atlet Judo. Pria bernama lengkap Johanes Taslim ini menjadi terkenal setelah membintangi dalam film laga The Raid: Redemption. Selain sebagai atlet judo, Joe mengenal seni bela diri lainnya sejak masih kecil seperti  wushu, taekwondo, dan pencak silat. Namun ia lebih menemukan gairahnya dalam Judo hingga menjalani karir sebagai atlet judo profesional. Dia pernah memenangkan beberapa medali emas di kejuaraan nasional, medali emas di kejuaraan South East Asia Judo 1999, dan meraih medali perak di Asean Games 2007. Joe menjadi anggota tim nasional Judo Indonesia 1997-2009. Cedera memaksanya pensiun sebagai atlet profesional (http://www.imdb.com/name/nm3029144/bio).

Iko Uwais dengan Keanu Reeves
“Veteran” film The Raid lainnya, Iko Uwais, tak kalah majunya. Iko akan memulai debutnya di kancah perfilman Hollywood lewat film Man of Tai Chi. Film ini akan disutradarai dan sekaligus dibintangi Keanu Reeves. Kepastian Iko membintangi film ini diumumkan melalui Twitter resmi Golden Globe, Juli 2012 lalu. Bunyi tweet akun Twitter resmi hollywood Foreign Press Association (HFPA) dan Golden Globe Awards ini yang di-tweet-kan pada Jumat 13 Juli 2012 ini, “Bintang film The Raid Iko Uwais bergabung sebagai pemain di drama aksi Man of Tai Chi, arahan sutradara debutan Keanu Reeves".

Film Man of Tai Chi mengisahkan tentang perjalanan spiritual Tiger Chen (petarung martial arts). Film ini akan mengambil setting di Beijing. Film Man of Tai Chi diproduseri Lemore Syvan. Sedangkan untuk naskah film ditulis Michael G. Cooney.  Film ini diproduksi oleh Village Roadshow Asia, China Film Group, Wanda Media Group, dan akan didistribusikan secara internasional oleh Universal Pictures. Man of Tai Chi rencananya akan tayang di bioskop pada tahun ini juga (http://celebrity.okezone.com/read/2013/02/07/535/758137/iko-uwais-main-bareng-keanu-reeves-di-man-of-tai-chi).**

6/01/2013

Pemukim Ilegal Coreti Gereja Tempat Bunda Maria Meninggal


“Pemukim ilegal mendesak Tel Aviv agar mengizinkan mereka menyerang warga Palestina dengan senjata api. Alasannya, mereka merasa keamanannya terancam”

Pemukim ilegal Israel mencoret-coret tembok sebuah gereja tua di kota Baitul Maqdis. Mereka, seperti dilaporkan stasiun TV Al-alam yang dilansir kantor berita IRNA, menuliskan kata-kata yang menghina Nabi Isa as pada tembok gereja Dormition. Gereja ini disebut-sebut sebagai tempat meninggalnya Bunda Maria. Aksi pemukim Israel seperti ini tentu bukan yang pertama. Aksi mereka belakangan malah melebar ke wilayah Baitul Maqdis, dari semula hanya di Tepi Barat.

Menatapi pohon zaitun yg dirusak (gettyimages.com)
Selain gereja, para pemukim Israel juga mencoreti kuburan-kuburan yang ada didekatnya dengan tulisan-tulisan yang mencemooh Nabi Isa As. Tak hanya menyerang kalangan Kristen, mereka juga terus menyerang masjid-masjid, merusak kebun zaitun dan membakar kendaraan-kendaraan warga Palestina (http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/13/06/01/mnoq04-pemukim-ilegal-israel-hina-nabi-isa).

Aksi vandalisme pemukim Israel terhadap rumah ibadah umat Kristiani juga dilakukan menjelang perayaan Natal 2012 lalu. Kantor berita resmi Jordania, Petra, melaporkan, Pemerintah Jordania mengutuk pemukim Israel yang menyemprotkan coretan anti-Kristen dan rasistis pada sebuah biara dan pemakaman Kristiani di Jerusalem. Menteri Negara Urusan Media Jordania, Samih Maaytah, waktu itu mengatakan, pemerintah Israel harus bertanggung jawab mencegah setiap pelanggaran terhadap tempat suci, karena bertentangan dengan hukum internasional dan kemanusiaan (http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/12/12/13/mey209-pemukim-yahudi-kotori-gereja-yordania-mengutuk).

Sementara itu serangan terhadap tempat ibadah umat Islam sudah tak terhitung. Ahad (7/413),  beberapa pemukim Israel menulis slogan anti-Arab dan Muslim di tembok dua masjid di dekat Kota Bethlehem, Tepi Barat. Beberapa sumber mengatakan para penyerang itu menggambar Bintang Daud, lambang Yahudi, dan slogan dalam bahasa Yahudi yang berisi ancaman terhadap orang Arab, dan menyeru kepada sesama Yahudi untuk melempari orang Palestina dengan batu (http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/13/04/08/mkwhev-pemukim-yahudi-coreti-tembok-masjid-di-tepi-barat).

Serangan bahkan semakin agresif pada individu-individu, bahkan anak kecil. Januari lalu dikabarkan sejumlah warga Palestina, termasuk seorang anak berusia dua tahun bernama Farah Nanseem dilaporkan terluka akibat serangan puluhan pemukim ilegal Israel di Desa Jalud, utara Tepi Barat. Beberapa hari sebelumnya, warga Yahudi yang brutal juga menyerang desa Qusra, Nablus. Mereka menebangi lebih dari 150 pohon zaitun. Para penyerang itu hanya ditahan sebentar oleh kepala keamanan desa.

Para pemukim Israel yang dinyatakan ilegal berdasarkan hukum internasional ini, secara rutin menyerang warga Palestina, kebanyakan yang bermukim di Tepi Barat. Mereka juga kerap merusak bangunan dan mengganggu mata pencaharian warga. Anak-anak kecil dan orang tua juga tidak luput dari serangan mereka (http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/13/01/04/mg3ncm-biadab-balita-palestina-dipukuli-pemukim-ilegal-yahudi).

Modus Merusak Pohon Zaitun
Salah satu mata pencaharian warga Palestina yang belakangan sering dirusak pemukim ilegal Israel adalah pohon zaitun. April lalu, puluhan pohon zaitun dan tin milik warga Palestina di barat daya kota Ramallah di Tepi Barat tengah, dirusak dan dicabuti. Menurut Intifadah, LSM Palestina, warga Israel dari pemukiman Halamis menebangi sekitar 150 pohon zaitun dan 40 pohon tin milik warga Palestina dari desa Der Nidlam, barat daya Ramallah (http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/13/04/19/mlh9qq-pemukim-yahudi-tembangi-pohon-zaitun-warga-palestina).

Setiap tahun, serangan oleh para pemukim Yahudi terhadap para petani zaitun Palestina meningkat sekitar waktu panen. Kelompok bantuan internasional Oxfam pernah melansir bahwa  sektor pertanian zaitun menyumbang hingga 100 juta dolar dalam pendapatan tahunan bagi sejumlah petani miskin (http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/11/10/07/lso4qv-palestina-tuduh-pemukim-yahudi-tebang-150-pohon-zaitun-tepi-barat).

Awal Mei lalu, pemukim Israel juga menyerang rumah warga Palestina di Tepi Barat, memecahkan kaca jendelanya, dan menuliskan harga di tembok. Saat melakukan perusakan, pemukim Israel memiliki modus baru dengan menuliskan harga pada rumah-rumah yang diserangnya. Mereka menyerang pada malam hari dengan mengenakan topeng. Juru bicara kelompok Hak Asasi Manusia (HAM) Betselem, Sarit Michaeli, seperti dilaporkan PressTV mengatakan, hal ini dapat memperburuk kondisi di wilayah Tepi Barat. 

Ekspansi pemukiman Israel di wilayah Palestina menjadi hambatan utama dalam usaha mewujudkan perdamaian di Timur Tengah (Timteng). Lebih dari setengah juta warga Israel tinggal di 120 pemukiman ilegal yang dibangun sejak okupasi Israel di wilayah Palestina di Tepi Barat dan Timur al-Quds pada 1967. Amerika Serikat (AS) dan sebagaian besar negara sepakat menyebut pemukiman Israel ilegal karena wilayah tersebut didapat dari perang Israel pada 1967, sesuai konvensi Jenewa yang melarang pembangunan pada wilayah jajahan (http://www.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/13/05/02/mm5pht-pemukim-israel-serang-rumah-warga-palestina). Sayang, pernyataan AS dan negara-negara di dunia ini seperti berhenti sebatas retorika.

Hasrat para pemukim ilegal Israel di wilayah Tepi Barat dalam memerangi warga Palestina bahkan kian mengkhawatirkan. Mereka mendesak  Tel Aviv agar mengizinkan mereka menyerang warga Palestina dengan senjata api. Alasannya, mereka merasa keamanannya terancam. Surat kabar Israel, Haaretz, menulis, para pemukim Israel di Tepi Barat secara serentak akan menggelar aksi demonstrasi di Al Khalil, Beit El, dan Nablus, untuk memaksa parlemen melegalkan penggunaan senjata.

Namun petinggi Tel Aviv khawatir, meningkatnya aksi penembakan yang dilakukan pemukim Israel terhadap warga Palestina akan memicu langkah-langkah hukum pengadilan internasional. Para pemukim ilegal Israel di Tepi Barat ini bahkan tanpa didukung peraturan pun sudah menembaki petani-petani Palestina. Tujuannya agar warga asli Palestina meninggalkan tempat tinggal dan pekerjaannya (http://indonesian.irib.ir/timur-tengah/-/asset_publisher/d4Na/content/pemukim-zionis-legalkan-kejahatannya-atas-warga-palestina).

Bagaimana pun, aksi pemukim Yahudi menyerang pemukiman warga Palestina dalam beberapa kasus telah nyata mendapat dukungan pemerintah Israel. Tahun 2012 misalnya, sebanyak 1.000 lebih pemukim ilegal Yahudi menyerang desa Kafel Haris. Mereka melakukan serangan di bawah perlindungan ketat serdadu-serdadu Pendudukan Israel (IOF).  (http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/12/01/07/lxeol0-ribuan-pemukim-yahudi-serang-desa-palestina).

Israel dan AS Kompak Tolak Resolusi
Maret lalu, angin segar sedikit berhembus untuk warga Palestina, ketika Dewan HAM PBB mengeluarkan resolusi yang memerintahkan penyelidikan pertama terhadap permukiman Israel. Resolusi ini juga akan menyeru Israel untuk menyita senjata para pemukim Israel untuk mencegah aksi kekerasan. Juru bicara Presiden Palestina, Nabil Abu Rudeina, mengatakan, resolusi tersebut adalah pesan dari masyarakat internasional bahwa pemukiman ilegal Israel harus benar-benar dihentikan.

Resolusi yang dikeluarkan 22 Maret 2013 ini berisi penilaian apakah pemukiman Israel tersebut melanggar hak-hak warga Palestina. Sebanyak 36 suara mendukung resolusi, 10 suara abstain, hanya Amerika Serikat (AS) yang menentang. Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, menyebut resolusi itu bermuka dua. "Dewan HAM memiliki mayoritas suara yang memusuhi Israel dan munafik" katanya. AS yang menentang resolusi tersebut mengatakan, dewan HAM PBB sangat bias terhadap Israel. "Langkah seperti ini tidak ada nilainya dalam mempromosikan perdamaian yang adil dan abadi," ujar utusan AS (http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/12/03/23/m1bkea-palestina-senang-dewan-ham-pbb-usut-pemukiman-liar-israel).

Sejak Israel bercokol di tanah Palestina pada 1967, berbagai fakta pengalienasian warga Palestina dari tanahnya sendiri terus terjadi dengan berbagai cara. PBB dan Betselem (LSM Internasional bidang HAM), Juli 2012, mengeluarkan laporan, Tahun 2011 saja angka kasus kekerasan yang melibatkan pemukim Yahudi terhadap warga Palestina mencapai 15 persen, atau naik 150 persen sejak 2009 (http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/12/07/13/m73tbn-serangan-yahudi-kepada-palestina-meningkat-150-persen). Berdasarkan data dari Organisasi Perdamaian Israel, pembangunan pemukiman ilegal di wilayah Tepi Barat naik 19 persen pada tahun 2011 dibandingkan tahun sebelumnya (http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/12/01/13/lxq18e-2011-israel-terus-merangsek-pemukiman-yahudi-naik-19-persen).

Betselem juga melansir data, permukiman Yahudi telah menguasai lebih dari 42 persen dari wilayah Tepi Barat (West Bank). Kebanyakan tanah yang mereka miliki disita dari pemilik tanah (warga Palestina) yang terusir dari tempat tinggalnya—praktik yang sudah dilarang oleh Mahkamah Agung Israel sejak 1979. Permukiman Yahudi ini telah mengambil alih daerah yang jauh melampaui batas-batas wilayah mereka (http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/internasional/10/07/07/123492-pendatang-yahudi-kuasai-42-persen-lahan-tepi-barat).

Sementara data resmi Palestina memperlihatkan bahwa penjajah Israel selama penjajahan Palestina (peristiwa Nakba) pada tahun 1948, merampas 774 desa dan kota Palestina. Israel menghancurkan sekitar 531 kawasan dan melakukan 70 kali pembantaian yang menewaskan lebih dari 15 ribu warga Palestina. Selain itu, lebih dari 800 ribu warga Palestina diusir dari desa dan kota mereka menuju Tepi Barat, Gaza, dan sejumlah negara Arab. Angka-angka ini menurut Pusat Data Palestina seperti dikutip Infopalestina, menegaskan bahwa Israel telah berhasil menguasai lebih dari 85 persen kawasan Palestina (http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/13/05/16/mmw5h2-israel-kuasai-85-persen-palestina).**

Dewan Masjid Indonesia Akan Atur “Speaker” Masjid



"Suara adzan yang terdengar sayup-sayup terasa lebih merasuk ke sanubari kita dibanding suara yang terlalu keras, menyentak, dan terlalu dekat ke telinga kita. Al-Quran pun mengajarkan kepada kita untuk merendahkan suara kita sambil merendahkan hati ketika berdoa memohon bimbingan dan petunjukNya”. Kutipan tersebut berasal dari pidato Wakil Presiden (Wapres) Boediono saat saat memberikan pengarahan sekaligus membuka Muktamar VI Dewan Masjid Indonesia (DMI) di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, 27 April lalu.

Speaker masjid ke segala arah (ROL)
Secara umum, dalam pidatonya itu Wapres meminta DMI membuat aturan soal pengeras suara masjid (http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/04/29/m38ijc-inilah-pidato-wapres-tentang-pengaturan-azan). Umat Islam pun bereaksi, meskipun syukurlah tidak terlalu berlebihan. Kritik terhadap hal-hal menyangkut agama seperti ini, meskipun benar adanya, memang menjadi sensitif jika disampaikan orang yang kurang pas. Hati kecil Muslim pada umumnya, terutama yang tempat tinggalnya bertetanggaan dengan masjid, akan membenarkan apa yang disampaikan Boediono itu—yaitu ketika corong Masjid bagai seperti berada tepat di samping telinga kita.

Beberapa selebritas politik Senayan pun segera bereaksi atas pidato Wapres ini, seolah merasa paling bisa mewakili dan paling mengerti rakyat, dengan komentar yang tampaknya berasal dari pengetahuan yang dangkal. Ketua Komisi VIII DPR, Ida Fauziyah, menyatakan, masalah pengeras suara di masjid dan mushola tidak perlu diatur. "Mereka tahu seberapa besar penggunaan pengeras suara di masjid dan mushola dibutuhkan," ujarnya. Menurutnya, pengelola masjid pasti berkomunikasi dengan masyarakat sekitar terkait penggunaan pengeras suara. “Penggunaannya untuk membunyikan tilawah al-Qur'an misalkan, sangat dibutuhkan karena lantunan ayat suci memang menyejukkan hati. "Masyarakat memang membutuhkan hal itu," paparnya (http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/04/29/m38tng-masalah-pengeras-suara-masjid-tak-perlu-regulasi).

Anggota Komisi III DPR, Dimyati Natakusumah, bahkan melontarkan kritik dengan kata-kata tak enak. Anggota DPR dari Fraksi PPP yang sempat mencicipi jeruji besi ini, ketika itu mengatakan, pernyataan Wapres ini kurang penting. "Wapres jangan bawel," ujar politisi yang  pernah menjadi terdakwa dalam kasus korupsi senilai Rp 200 miliar pada 2006 ini, saat dia menjadi Bupati Pandeglang (lihat kabarnya di sini: http://nasional.news.viva.co.id/news/read/166737-badan-kehormatan-belum-selesai-periksa-as-ad).

Wapres kata dia, lebih baik mengurus hal-hal yang lebih penting ketimbang urusan yang telah menjadi bagian dari syariat agama serta kultur. "Lebih baik memberikan masukan positif untuk kegiatan di masjid, jangan speaker-nya yang dikomentari," ujar pria yang juga pernah berurusan dengan hukum karena kasus asmara dengan seorang siswi SMA di Pandeglang ini (http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/04/27/m350hh-soal-speaker-masjid-wapres-diminta-jangan-bawel).

Dimyati Natakusumah pernah didakwa jaksa penuntut umum dengan tiga pasal berlapis tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dengan ancaman hukuman paling lama seumur hidup. Dimyati dinilai jaksa terbukti bersama Mantan Ketua B-P-K-D Pandeglang menyuap anggota dewan periode 2004-2009, untuk melancarakan pinjaman daerah Pemkab Pandeglang ke Bank Jabar banten senilai 200 miliar (http://news.liputan6.com/read/257494/sidang-kasus-suap-dimyati-diputuskan-dilanjutkan). Tapi entah bagaimana orang ini bisa duduk lagi di kursi DPR.

Sementara itu, Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Pusat, Prof Dr H Muhammad Baharun, mengatakan, wacana yang dilontarkan Boediono tidak bisa diterapkan di Indonesia. "Tradisi umat Islam, azan itu adalah syiar dan harus dilantunkan dengan syahdu dan keras. Sehingga menggunakan pengeras suara untuk azan memang layak dilakukan. Adzan memang harus begitu,"  ujarnya. Menurut Baharun, yang seharusnya diatur adalah soal penggunaan pengeras suara untuk kegiatan masjid lainnya di luar adzan. Misalnya, pengeras suara untuk pengajian , ceramah, atau kasidahan (http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/12/04/29/m38xv3-mui-azan-lewat-pengeras-suara-tak-perlu-diatur).

Ketua MUI, Amidhan, juga menyatakan, itu sudah ciri Islam di Indonesia. “Bahkan saya rasa tidak hanya di sini saja tetapi di semua mayoritas negara muslim, termasuk juga di Malaysia.'' Amidhan menduga, keluhan wapres ini mungkin karena ada keluhan pihak lain. Selain, ''Mungkin saja korps diplomatik,'' ujarnya. Amidhan memahami tempat kediaman Wapres dekat dengan masjid Sunda Kelapa. “Tapi kalau (azan) itu dilamatkan, tidak keras, ya nanti fungsi (dari azan) itu menjadi hilang. Meski harus diakuinya, hukum azan sebenarnya tidak wajib,'' katanya.

Amidhan mengakui, penggunaan pengeras suara seperti memutar pengajian pada  dini hari, terkadang memang mengganggu, apalagi jika sudah “ramai” sejak masih pukul 03.00. Sementara azan subuh baru berkumandang sekitar pukul 04.00. ''Kalau masalahnya seperti ini, ya itu memang kurang baik juga,'' ujarnya. Namun dia kemudian membandingkan dengan lonceng tanda waktu kebaktian di kota Roma, Italia, yang juga cukup mengganggu telinga, begitu juga di negara-negara mayoritas nasrani lainnya. ''Sebagai (negara) mayoritas muslim, sebenarnya tidak perlu keberatan. Apalagi subuh. Harusnya merasa terbantu karena dibangunkan,'' katanya (http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/04/29/m38oui-wapres-keluhkan-soal-azan-ini-komentar-mui).

Untunglah Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jusuf Kalla, cukup aspiratif. Menurut Jusuf, pihaknya kini tengah membahas detail teknis dan konsep pengaturan penggunaan pengeras suara di masjid-masjid, terutama untuk selain kumandang azan. Jusuf, seperti dikutip onislam.net yang mengutip The Jakarta Post pada Rabu (29/5/13), mengatakan, pembicaraan sedang berlangsung untuk melarang masjid menggunakan pengeras suara untuk khotbah agama dan pembacaan Alquran.

"Kalau untuk Azan, itu baik-baik saja di mana-mana di dunia masjid menggunakan speaker untuk Azan," kata mantan wakil presiden Indonesia ini. Di Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbesar, terdapat hampir 80.000 masjid.  Masjid-masjid ini sayangnya tak hanya menggunakan pengeras suara saat azan, namun juga kadang saat ceramah keagamaan (http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/05/31/mnmy3d-aturan-pengeras-suara-buat-masjid-bakal-disahkan).

Timur Tengah Juga Galau
Ihwal pengeras suara, ternyata juga menjadi kegalauan di negara-negara mayoritas Muslim lainnya. Wacana larangan penggunaan pengeras suara di masjid ini bahkan menjadi pembahasan serius negara-negara Islam di Afrika Utara dan Timur Tengah (Timteng). "Kekuatan iman tidak diukur dengan seberapa keras panggilan untuk shalat. Masjid yang tidak menggunakan pengeras suara tetap bisa menjalankan aktivitasnya," kata Saeed Lakhal, seorang pakar Agama Islam asal Maroko, seperti dikutip Al-Arabiya, Kamis (1/9).

Sementara itu, selama hampir satu dekade, rezim mantan Presiden Mesir Hosni Mubarak berjuang untuk melaksanakan proyek yang akan menyinkronkan panggilan shalat di 4.000 masjid di Kairo. Harapannya akan  menurunkan hiruk-pikuk sehari-hari di ibukota Mesir. Namun  Mubarak terlanjur ditumbangkan sehingga proyek tersebut terancam tidak berlanjut.

Di Arab Saudi, Kementerian Urusan Islam tengah menyelidiki keluhan masyarakat terkait tingkat kebisingan akibat penggunaan pengeras suara. Sebelum teknologi pengeras suara diperkenalkan, suara adzan diucapkan oleh muadzin dalam menara sehingga dapat menjangkau umat dalam radius yang cukup jauh (http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/11/09/01/lqu3y6-larangan-pengeras-suara-di-masjid-jadi-wacana-muslim-timur-tengah).

Di Dubai Uni Emirates Arab (UAE), rupanya banyak juga warga yang mengeluhkan penggunaan pengeras suara di masjid, bahkan saat adzan Subuh. "Saya mendapatkan banyak keluhan soal ini. Namun saya perlu meminta pendapat masyarakat dan ulama soal masalah ini," ujar Anggota Dewan Tertinggi Emirat Sharjah, Dubai, UEA, Shaikh Sultan bin Mohammed al-Qasimi, seperti dikutip khaleejtimes.com (http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/08/09/m8hg4k-sharjah-gelar-voting-soal-pengeras-suara-masjid).

Otoritas Bahrain memperbaharui aturan mengenai larangan penggunaan pengeras suara di masjid selama shalat. Aturan ini mengakhiri debat panjang dan isu sensitif yang telah berlangsung selama bertahun-tahun di kerajaan tersebut. Putusan itu dibuat oleh Bahraini Sunni Endowment Department, semacam Direktorat Jenderal Bimas Islam di Indonesia, Kementerian Agama  di Bahrain.

Dalam amar putusannya, Kementerian Agama Bahrain melarang penggunaan pengeras suara selain digunakan sebagai kumandang azan. Putusan itu kemudian disebarkan melalui pesan singkat kepada para muazin di masjid untuk menghormati aturan baru tersebut (http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/10/08/17/130360-bahrain-larang-penggunaan-pengeras-suara-di-masjid).**