6/04/2013

Mobil Esemka Rajawali Dianggap Kemahalan


“Tapi kok harganya lebih mahal dari mobil-mobil yang ada di pasaran sekarang. Padahal sebelumnya diperkirakan dijual dengan harga Rp 95 juta”

Setelah berhasil lolos uji emisi kedua pada Mei tahun lalu, mobil Esemka siap diproduksi masal. Alasan untuk memproduksi masal mobil ini sudah di tangan, yakni  dengan sudah adanya 7.000 pesanan mobil jenis sporty utility vehicle (SUV) ini. PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK), produsen Esemka, mengatakan akan memulai produksi massal kendaraan itu pada Juli 2013, setelah memenuhi syarat untuk menurunkan beratnya dari  2,4 ton menjadi 1,2 ton.

ROL
Humas PT SMK, Sabar Budi, mengatakan, selama Mei dan Juni 2013 pihaknya akan mengonfirmasi para pemesan mobil Esemka. "Sampai saat ini, ada beberapa pelanggan yang membatalkan pemesanan, tapi jumlahnya tidak banyak sekitar sepuluh atau belasan orang saja. Semuanya dari pemesan perorangan," katanya akhir Mei lalu. Ia mengatakan, jika para pemesan ingin mobil pesanannya mulai diproduksi, wajib membayar uang muka 30 persen dari harga mobil. Untuk produksi awal, pihaknya baru akan merakit jenis Rajawali SUV yang dibanderol Rp 140-150 juta.

Salah satu kendala klasik industri mobil, yakni masalah after sales service—antara lain soal  ketersediaan suku cadang—telah menjadi pemikiran produsen mobil buatan kota Solo ini. Setidaknya, Akademi Teknik Mesin Indonesia (ATMI) Solo yang selama ini memproduksi suku cadang mobil, mengaku siap memenuhi kebutuhan suku cadang mobil Esemka. "Kalau diminta membantu memenuhi kebutuhan spare part mobil Esemka, tidak keberatan dan siap," kata Direktur ATMI Solo, Romo T. Agus Sriyanto, di Solo, Selasa (4/6/13) (http://www.republika.co.id/berita/otomotif/mobil/13/06/04/mnv28b-atmi-solo-siap-pasok-suku-cadang-esemka).

Kelewat Mahal
Pemesan mobil Esemka ini antara lain adalah Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta (Solo). Hal ini dilakukan Pihak Pemkot untuk menunjukkan komitmennya dalam memajukan industri mobil dalam negeri. Mobil Esemka jenis SUV ini nantinya akan digunakan  untuk kendaraan dinas wali kota (AD 1) dan wakil wali kota (AD 2).

Dua prototype mobil Esemka Rajawali yang pernah digunakan untuk uji emisi tidak digunakan sebagai kendaraan dinas, karena akan dijadikan ikon sekaligus contoh produk jadi mobil Esemka. "Untuk AD 1 dan AD 2 akan dibuatkan mobil Esemka yang baru. Yang kemarin kan hanya buat prototype saja untuk uji emisi," kata Wali Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo (Rudy). (http://www.republika.co.id/berita/otomotif/mobil/13/05/30/mnlx2t-7000-mobil-esemka-mulai-diproduksi-juli).

Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto, boleh jadi termasuk salah seorang pemesannya. Saat membuka acara Breaking Through Underpass Cibubur, di Cibubur, Minggu (21/4/2013), Djoko terlihat menggunakan mobil yang sempat fenomenal tersebut dengan dikawal rombongan voo rijder. "Saya sudah pesan ke Pak Jokowi, kalau sudah lulus uji coba saya pesan satu, dan saya pakai yang pertama. Ini mobil pertama yang sudah lulus uji emisi," ujar Djoko. Sebelumnya mobil Esemka sempat dijadikan kendaraan dinas Joko Widodo (Jokowi) saat masih menjabat Walikota Solo. Waktu itu, mobil ini belum lulus uji emisi (http://finance.detik.com/read/2013/04/21/134404/2226164/68/djoko-kirmanto-pejabat-negara-pertama-yang-pakai-mobil-esemka-lulus-uji-emisi).

Akan tetapi, masyarakat menganggap harga Esemka Rajawali yang dibanderol Rp 140-150 juta ini kelewat mahal.  Gunarso, warga Sukoharjo, saat melihat-lihat mobil 1500 cc ini di pameran mobil Esemka di Solo Techno Park, 10-12 November 2012 lalu, mengatakan, awalnya dia berniat membeli. Apalagi dia menganggap Esemka sudah layak diproduksi massal. Gunarso melihat bodi mobil ini juga cukup kuat.  “Tapi kok harganya lebih mahal dari mobil-mobil yang ada di pasaran sekarang," katanya. Sebelumnya Esemka Rajawali diperkirakan dijual dengan harga Rp 95 juta. Untuk sebuah produk yang belum teruji, kata Gunarso, kisaran harganya masih kelewat mahal (http://www.tempo.co/read/news/2012/11/12/123441204/Harga-Esemka-Rajawali-Kemahalan).

Dua Kali Uji Emisi
Sebelumnya,  Mobil Esemka buatan para pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Solo ini dikabarkan telah lolos uji emisi (kedua) di Balai Thermodinamika Motor dan Propulsi (BTMP) Serpong, Tangerang. Namun kata Rudy, ada catatan, yakni berat mobil tersebut harus diturunkan dari 2,4 ton menjadi 1,2 ton. "Body mobil dari plat besi nantinya bisa diganti dengan bahan lain yang lebih ringan, tanpa mengurangi kenyamanan dan keamanan mobil tersebut," kata Rudy, Agustus  lalu (http://www.republika.co.id/berita/otomotif/mobil/12/08/02/m849hs-horeeemobil-esemka-rajawali-lolos-uji-emisi).

Sebelum menjalani uji emisi kedua pada Mei 2012, sejumlah perubahan dilakukan pada bagian bodi mobil, seperti mempersiapkan chasis dan bodi baru yang lebih ringan, yang dipersiapkan di Cikarang, Bekasi. Dengan perubahan bodi dan chasis tersebut, tampilan luar mobil Esemka Rajawali ini akan berubah. "Bodi baru ini kita gunakan materi gabungan logam dan fiberglass atau plastik. Bisa jadi akan mengubah bentuk mobil. Atau juga bisa mengubah daya tampung mobil dari tujuh orang menjadi lima orang," kata Tim Ahli Mobil Esemka,Budi Martono (http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/06/27/m69pbp-esemka-optimis-lolos-uji-emisi-kedua).

Menurut Direktur Pelayanan dan Pengembangan Solo Techno Park, Gampang Sarwono, pada uji emisi kedua itu Esemka berhasil memenuhi ambang batas uji emisi sesuai BTMP. Untuk CO, ambang batasnya 5 gram per kilometer, dan untuk HC+NOX, ambang batasnya 0,70 gram per kilometer. Pada uji emisi pertama akhir Februari 2012 lalu, Esemka gagal lolos karena emisi gas buangnya masih tinggi: CO mencapai 11,63 gram per kilometer, dan HC+ NOX mencapai 2,69 gram per kilometer (http://www.tempo.co/read/news/2012/08/10/122422625/Lolos-Uji-Emisi-Mobil-Esemka-Siap-Produksi).**

Program Keluarga Berencana, Gagal!


“Dari sembilan kota yang menjadi responden, kota dengan jumlah pesantren banyak , mendominasi kasus pernikahan di bawah umur”

Di Singapura, mahalnya harga mobil berikut tetek bengek pajaknya, membuat jalanan lengang. Kenapa? Karena warga memilih naik kendaraan umum yang lebih murah. Sayangnya, logika semacam itu tidak berlaku untuk menekan jumlah penduduk di Indonesia. Di berbagai daerah, sebut saja Garut, Ungaran, Jember, Semarang, atau Cirebon, hingga Jambi, warga mengeluhkan tingginya biaya pernikahan. Namun di sisi lain, pemerintah mengeluarkan data bahwa angka pencapaian program Keluarga Berencana (KB), stagnan, cenderung mengkhawatirkan. Malah Menteri Kesehatan (Menkes) sudah menyatakan bahwa program KB gagal.

Lutfiana Ulfa dinikahi Sek Puji di usia 12 (ROL)
Apakah tren nikah siri bisa dijadikan kambing hitam kegagalan? Atau program “dua anak cukup” sudah dilupakan? Selain memang ada laporan bahwa kecenderungan menikah dini (mungkin di antaranya secara siri juga), kian meningkat di negeri ini, termasuk juga menikah dini karena “kecelakaan”. Menkes, Nafsiah Mboi, menyebut, usia pernikahan saat ini cenderung turun (lebih muda). “Makin banyak remaja dibawa 20 tahun yang sudah melakukan seks dan pernikahan akibat pergaulan bebas," ujarnya, April lalu. Pernikahan dini kata Nafsiah, banyak terjadi di wilayah rural, sementara pada daerah urban tidak begitu tinggi (http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/04/09/mkz7fl-menkes-nilai-program-kb-gagal).

Deputi bidang KB dan Kesehatan Reproduksi, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Julianto Witjaksono, mengungkapkan, pelaksanaan program Kependudukan dan Keluarga Berencana (KKB) Nasional dalam 10 tahun terakhir menunjukkan angka yang tidak memuaskan. "Situasi ini perlu diwaspadai dan ditanggapi secara serius," ujar Julianto, di Gorontalo, Senin (3/6/13).

Ia mengatakan, total fertility rate (tingkat kelahiran anak oleh seorang wanita usia subur) stagnan pada angka 2,6 persen. Sementara penggunaan kontrasepsi hanya merangkak naik 0,5 persen selama lima tahun terakhir dari 61,4 persen (2007) menjadi 61,9 persen (2012). Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2012, sebut Julianto, juga memperlihatkan indikasi mengkhawatirkan, yakni persentase wanita yang hamil di usia 15-49 tahun meningkat dari 3,9 persen (2007) menjadi 4,3 persen (2012).

Penggunaan kontrasepsi moderen juga menurun pada wanita usia 25-29 dari 60,7 persen (2007) menjadi 60,4 persen (2012), di usia 30-34 turun dari 64,7 persen (2007) menjadi 61,8 persen (2012). Kebutuhan ber-KB pada Pasangan Usia Subur (PUS) yang masuk kelompok usia muda yakni 20-24, juga turun dari 71,5 persen (2007) menjadi 68,6 persen (2012), sedangkan usia 25-29 tahun turun dari 74,0 persen (2007) menjadi 71,9 persen (2012). "Bahkan di usia 30-34 tahun penurunannya lebih besar, yaitu dari 78,5 persen (2007) menjadi 74,1 persen (2012)," jelas Julianto.

Julianto mengakui, di lapangan juga terjadi penurunan upaya penyuluhan progam KB baik kuantitas maupun kualitas. Berkaca pada fakta tersebut, ia meminta semua pihak termasuk jajaran pemerintah daerah, para PLKB/PKB, Kader PKK-Kesehatan, tokoh masyarakat serta seluruh jajaran mitra program kerja KB, untuk terus semangat dan berjuang. "Ajak semua keluarga untuk ikut KB,” seru Julianto (http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/06/04/mnucjj-angka-pencapaian-program-kb-mengkhawatirkan).

Berdasarkan laporan-laporan itu, Nafsiah menilai program KB telah gagal. Angka fertilitas (harfiah: kesuburan) di Indonesia kata Nafisah, tidak menurun seperti yang diharapkan. "Pada sekitar 2012, angka fertilitas di Indonesia sebesar 2,6, dan angka tersebut masih bertahan hingga saat ini. Artinya program KB dalam 10 tahun terakhir gagal," kata Menkes. Kegagalan ini mengacu pada target program Millenium Development Goals (MDGs) yang menargetkan angka 2,1 pada 2014 (http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/04/09/mkz7fl-menkes-nilai-program-kb-gagal).

Millennium Development Goals (MDGs) atau diterjemahkan menjadi Tujuan Pembangunan Milenium, adalah sebuah paradigma pembangunan global yang dideklarasikan 189 negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dalam Konperensi Tingkat Tinggi Milenium di New York, September 2000 (http://mdgs-dev.bps.go.id/main.php?link=home). Dengan demikian, target MDGs merupakan janji pemerintah negara-negara anggota PBB itu kepada dunia.

Berkaitan dengan fenomena menikah dan melahirkan di usia dini, BKKBN mencatat bahwa ada peningkatan 10 persen indeks kehamilan usia remaja (15-19 tahun) dibanding 2012. BKKBN memantau, angka 35 anak per 1000 kehamilan di kalangan remaja, meningkat menjadi 48 anak per 1000 kehamilan pada 2013. Sementara target (MDGs) yang hendak dicapai pada 2014 yaitu 30 per 1000 kehamilan. Penurunan angka ini dinilai cukup sulit mengingat semakin banyak wanita usia muda yang melahirkan dini.

Deputi Bidang Advokasi Penggerakan Informasi BKKBN, Hardiyanto, mengakui, selain upaya petugas PLKB/PKB dan Institusi Masyarakat Pedesaan (IMP) dalam menyosialisasikan program KB masih belum maksimal, juga karena berbenturan dengan perilaku seks bebas di kalangan remaja yang makin mengkhawatirkan.

Dokter dari Direktorat Bina Ketahanan Keluarga Lansia dan Rentan, Dr Elsa Pongtuluran, mengatakan, semakin bebas pergaulan semakin banyak wanita yang hamil di usia dini. ''Padahal pada usia itu organ reproduksi wanita masih sangat rentan,'' kata Dr Elsa. Usia matang seorang wanita bereproduksi kata Elsa, adalah 20-35 tahun. Di bawah dan di atas  usia tersebut, rentan  komplikasi (http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/05/30/mnkkr5-fenomena-nikah-dini-menjadi-konsentrasi-bkkbn/ http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/04/19/mlif4l-angka-perempuan-melahirkan-di-usia-dini-masih-tinggi).

Menurut peneliti dari Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama (Kemenag), Prof Abdurahman Masud, penyebab terjadinya pernikahan di bawah umur antara lain juga karena  rendahnya pendidikan; belum cukup umur sudah bekerja karena harus mengurangi beban keluarga. Penyebab lainnya, lanjut dia, terjadinya pernikahan tidak tercatat (nikah siri), karena ada anggapan pernikahan sudah sah jika dilakukan oleh kiai atau ulama. Ia lalu menyarankan agar kerja sama dengan pengadilan agama digalakan selain untuk sosialisasi bahaya menikah di bawah umur, juga memperbanyak sidang isbat (pengesahan) nikah keliling (http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/02/26/mitgub-wah-makin-banyak-orang-menikah-muda-mengapa).

Hasil penelitian Balitbang dan Diklat Kemenag terkait pernikahan di bawah umur menunjukkan hasil mengejutkan. Dari sembilan kabupaten yang menjadi responden, kota dengan jumlah pesantren banyak justru mendominasi. Kesembilan kabupaten tersebut adalah Tangerang, Indramayu, Cianjur, Brebes, Yogyakarta, Bangkalan, Malang, Lombok Tengah dan Balangan. Kabupaten Indramayu dan Malang merupakan yang tertinggi kasus nikah di bawah umur. Abdurrahman mengatakan, jumlah kasus di Indramayu sebanyak 825 kasus. Sedangkan di Malang 474 kasus. "Kota ini (Indramayu dan Malang) adalah kota santri, banyak pesantrennya," kata Abdurrahman (http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/02/26/mitizp-nikah-di-bawah-umur-justru-marak-di-kota-santri).**

6/03/2013

Meski Berat, Banyak Perokok Ingin Berhenti Merokok



“YLKI: semua negara di dunia saat ini sudah melarang iklan rokok, kecuali Indonesia dan beberapa negara di Afrika”

Layanan terapi gratis menghilangkan ketergantungan merokok, disambut antusias warga Jakarta, Ahad (2/6/13). Pos layanan yang dibuka dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) 2013 yang berlokasi di sekitar bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, ini, diantre warga yang kebetulan memenuhi kawasan car free day di kawasan tersebut. Rupanya, merokok itu lama-lama tak enak ya...

ROL
Pada kesempatan itu, Komnas Pengendalian Tembakau  mengajak masyarakat untuk mengurangi konsumsi rokok yang merugikan kesehatan (http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/13/06/02/mnrqq9-warga-antusias-ikuti-terapi-ketergantungan-merokok). Hari Tanpa Tembakau Sedunia diperingati setiap tanggal 31 Mei.

Tanggal tersebut dicanangkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak 1988 tahun lalu dengan tujuan melindungi generasi sekarang dan mendatang dari kerusakan akibat konsumsi tembakau, baik dilihat dari sisi kesehatan, social, maupun ekonomi, mengingat angka kerugian akibat rokok setiap tahunmencapai 200 juta dolar (http://www.scribd.com/doc/96682991/Kenapa-Hari-Tanpa-Tembakau-Sedunia-Jatuh-Pada-31-Mei). Namun setelah 25 berlalu, jumlah perokok di Indonesia bukannya berkurang malah semakin banyak. Bahkan kian banyak juga ditemukan wanita yang merokok. Usia perokok pun kian muda.

Boleh jadi pembengkakan jumlah perokok ini berkaitan dengan makin banyaknya jumlah stasiun televisi  yang berimplikasi pada makin luasnya sebaran iklan rokok. Tulus Abadi dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesi a (YLKI) mengatakan, iklan dan sponsor rokok sangat besar kontribusinya terhadap tingginya jumlah perokok di Indonesia. Indonesia kata Tulus,  saat ini menduduki peringkat ke-3 jumlah perokok terbanyak setelah Cina dan India.

Saat ini ujarnya, di Indonesia ada sekitar 70 juta perokok aktif. “Itu salah satunya karena pengaruh iklan," ujar Tulus di tengah aksi damai menolak iklan rokok di Bundaran HI, seminggu sebelumnya.Tulus mengungkapkan, semua negara di dunia saat ini sudah melarang iklan rokok, kecuali Indonesia dan beberapa negara di Afrika. Tulus lalu mengambil contoh Cina yang sudah sangat ketat dalam mengontrol iklan rokok (http://health.detik.com/read/2013/05/26/113932/2256010/763/ylki-70-juta-rakyat-indonesia-merokok-karena-pengaruh-iklan).

Namun seiring dengan semakin membengkaknya jumlah perokok, survei WHO menyebutkan bahwa sebanyak 70 persen dari para perokok sebenarnya merasa tersiksa dan memiliki keinginan kuat berhenti merokok. Para perokok ini juga sadar merokok sangat mengganggu kesehatan. Di Inggris, dari sekitar 1-5 orang dewasa yang merokok per hari, dua pertiganya berniat ingin berhenti merokok.

Dokter spesialis penyakit dalam, Agus Suryanto SpPd, mengungkapkan, survei yang dilakukan WHO memperkirakan dari 70 persen perokok, yang benar-benar tercapai keinginannya untuk berhenti merokok hanya kurang dari lima persen. Mereka ini berhasil berhenti tanpa bantuan, namun hanya sementara alias kembali lagi merokok karena efek ketergantungannya yang sulit dihilangkan.

Ciri-ciri perokok yang sudah ketergantungan /ketagihan, jelas Agus, biasanya akan mudah tersinggung, insomnia, mudah cemas, tidak sabar, mudah depresi, serta sulit konsentrasi, sehingga solusinya ya harus merokok lagi. Hasil penelitian sejumlah pihak membuktikan zat nikotin yang terkandung dalam rokok memiliki efek ketergantungan yang sangat tinggi dibanding zat adiktif lainnya, dan juga lebih sulit disembuhkan dibandingkan ketergantungan zat adiktif lainnya. Apalagi dampak merokok juga merugikan lingkungan sekitarnya.

Untuk menyembuhkan pecandu rokok, kata Agus, biasanya tidak cukup hanya dengan niat kuat, tetapi perlu terapi dengan dibantu obat-obatan. Pasalnya  lanjut Agus, sifat adiktif nikotin mengakibatkan ketergantungan secara fisiologis maupun psikologis, sehingga si perokok harus mencoba berulangkali hingga dapat berhenti total. Bagi yang bertekad ingin berhenti merokok, Agus mengatakan, ada obat pendukung yang cukup  signifikan menurunkan perasaan ingin kembali merokok yakni Varenicline. Obat ini juga memiliki efek antagonis mengurangi rasa nikmat jika seorang pasien merokok lagi (http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/08/10/24/9669-70-persen-perokok-ingin-berhenti).

Akunpunktur dan Hipnotis
Namun kajian penelitian atas 14 studi internasional menunjukkan bahwa sebagian pasien yang ingin berhenti merokok tak tertarik pada pengobatan. Pada penelitian yang dipimpin Mehdi Tahiri dari McGill University di Montreal, Kanada, terungkap bahwa secara umum perokok yang ingin berhenti mula-mula harus mengikuti terapi standar seperti memakai pengganti nikotin, pengobatan, dan penyuluhan perilaku. Namun kata Tahiri, dalam banyak kasus, terapi standard tak berhasil. “Lalu saya menyarankan akupunktur dan hipnotis sebagai pilihan."

Para peneliti mendapati sebagian studi itu memperlihatkan perokok yang menjalani akupunktur tiga kali lebih mungkin untuk terbebas dari tembakau, enam bulan atau satu tahun kemudian. Hal serupa terjadi pada empat percobaan dengan menggunakan hipnotis; perokok memiliki angka keberhasilan lebih tinggi dengan terapi tersebut dibandingkan yang mendapat sedikit bantuan. Memang, angka keberhasilan tidak selalu sama pada setiap studi, namun ada kecenderungan luas yang merujuk kepada manfaat pengobatan alternatif tersebut (http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/12/05/07/m3myi4-mau-berhenti-merokok-ini-dia-cara-yang-gampang).

Aktris Hollywood, Charlize Theron, adalah contoh perokok berat yang berkali-kali gagal, namun akhirnya berhasil meninggalkan rokok setelah menjalani hipnoterapi dan menganut pola hidup sehat termasuk yoga dan Pilates. Aktris lainnya yang memiliki keinginan kuat berhenti merokok dan berhasil adalah Cameron Diaz dan Jennifer Aniston (http://palembang.tribunnews.com/2013/04/18/ini-tips-sukses-berhenti-merokok-ala-pesohor-hollywood).

Jika tekad kuat sudah membara, sebenarnya dengan berolahraga pun selain menyehatkan juga dapat mengurangi hasrat untuk merokok. "Tentu saja olahraga hanya memiliki efek sementara. Namun, ini sangat dianjurkan,’’ kata Adrian Taylor, Profesor Psikologi Olahraga dan Kesehatan di University of Exeter, Inggris, seperti dilansir Dailymail. Penelitian itu menunjukkan, perokok yang berolahraga memiliki keinginan untuk mengurangi merokok ketimbang perokok yang tidak berolahraga. Dijelaskan Taylor, olahraga dapat meningkatkan mood seseorang sehingga bisa mengalihkan pikirannya dari rokok (http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/12/05/07/m3myi4-mau-berhenti-merokok-ini-dia-cara-yang-gampang).

Banyak orang tidak berhenti merokok karena mereka berpikir akan sulit. Bagaimana tidak, nikotin pada rokok bersifat mengurangi/menekan rasa cemas dan membuat individu yang mengonsumsi merasa lebih tenang dan terjaga. Meskipun pada akhirnya nikotin juga lah yang membuat stamina menurun dan bahkan mengancam tubuh dengan berbagai penyakit mematikan. Selain dengan cara-cara di atas, beberapa tip berikut ini juga niscaya dapat membantu.

Pertama, buat tulisan di tempat-tempat yang mudah terbaca mengenai alasan berhenti merokok. Misalnya, berapa banyak uang yang bisa disimpan bila tidak merokok, atau stamina yang melorot, cemas pada kesehatan anak, serta alasan-alasan merugikan lainnya jika tetap merokok. Kedua, berdekatanlah selalu dengan orang-orang yang mendukung untuk berhenti merokok. Jika tak ada, pertimbangkan bergabung dengan kelompok yang ingin berhenti merokok, termasuk di internet.

Ketiga, tandai pada kalender hari untuk berhenti merokok. Pikirkan bahwa hari itu adalah hari di mana Anda akan menjadi individu baru yang bebas rokok. Keempat, buang rokok yang berada di sekitar Anda, begitu juga korek apinya. Keempat, hilangkan semua bau rokok yang menempel pada pakaian dengan mencuci bersih, begitu juga dengan mobil. Keenam, kenali kebiasaan yang memicu keinginan untuk merokok, seperti saat minum kopi, sesudah makan, saat berada di rumah sahabat, atau saat mengendarai mobil (http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/13/05/10/mmgqpc-bertekad-berhenti-merokok-baca-ini-dulu).**